Bisa jadi, politik makin lama makin membosankan. Mungkin saja saking membosankannya, rakyat sudah antipati terhadap urusan politik. Buat apa ikut-ikutan pesta kalau akhirnya yang mendapat untung hanya mereka yang dipilih saja. Nanti, misalnya kalau sudah jadi pemimpin, lupa akan janjinya sendiri. Lagu lama!
Tanggal 16 Oktober kemarin mungkin menjadi hari yang menentukan bagi kota Depok. Setidaknya buat lima tahun ke depan.
Pemilu Kepala Daerah kali ini enggak semeriah yang gua bayangkan. Sepi. Mulai dari saat kampanye maupun pas hari pencoblosan. Sebagai pesta demokrasi, rasanya kurang afdol. Mana warna-warna cerah? Mana hiruk pikuknya? Di mana rakyat yang seharusnya menyambut tanggal 16 dengan suka cita?
Mending golput.
Dari dua minggu sebelum pencoblosan, gua sendiri sudah berniat mau golput. Bukan gua enggak peduli terhadap konstalasi politik dan perubahan kota Depok. Gua sangat peduli malah. Cuman, gua enggak tertarik dengan muka-muka lama yang ada di bursa calon pemimpin. Tiga dari empat kandidat, isinya wajah-wajah lama yang sudah sangat gua hafal. Track recordnya udah sama-sama kita tahu. Visi-misinya ngambang. Sekalinya ada wajah baru, mereka dari kalangan independen. Kasihan. Kalau misalnya calon yang dari kalangan indepeden menang, bisa dibantai nanti di DPRD. Enggak ada dukungan dari partai politik manapun. Roda pemerintahannya juga enggak akan berjalan dengan lancar. Pasti akan banyak godaan. Apalagi kalau melihat latar belakang calon wakil walikota dari kalangan independen, rasanya kurag meyakinkan.
Karena enggak enak dipanggil-panggil mulu sama Pak RT, akhirnya gua dateng juga ke TPS 30. Dari rumah, gue udah ngebawa kartu pemilih.
Bener-bener sepi.
Gua menyerahkan kartu pemilih, dicatat namanya, diberikan surat suara, tanpa telebih dahulu menunggu langsung masuk ke dalam bilik, membuka surat suara, melihat-lihat foto para kandidat. Amboi, mereka semua tersenyum manis.
Cukup lama, gua mengamati foto mereka.
Setelah puas, gua lipat kembali surat suara. Memasukannya ke dalam kotak besar. Kelingking gua lalu dimasukan ke dalam tutup botol air mineral yang penuh dengan tinta biru.
Gua pun lalu pulang ke rumah tanpa mencoblos foto kandidat manapun.
nb: Siapa pun yang memimpin Depok lima tahun ke depan, pokoknya dia harus amanah. Harus ingat kalo ada kematian setelah kehidupan. Harus ingat kalau nanti di alam sana ada yang namanya padang masyhar. Harus ingat kalo gerak-geriknya selalu diawasi Allah.

