Suatu masalah yang banyak sekali saya dapatkan di wilayah sekitar tempat tinggal saya adalah banyaknya kaum muda yang mengganggur. Setelah tamat SMA, banyak dari Kawan-Kawan saya yang tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena persoalan biaya. Bukan tanpa ikhtiar, mereka pun sebenarnya sudah mencoba melamar ke berbagai perusahaan. Hasilnya belum memuaskan. Lebih banyak Kawan saya yang ditolak ketimbang diterima bekerja.
Saya berpikir bahwa masalah pengangguran di Indonesia pada umunya telah mencapai tahap yang cukup krusial. Secara pasti saya tidak mengetahui berapa angka pengangguran di negeri ini. Bila dibiarkan terus menerus, masalah ini akan melebar ke berbagai sektor. Dalam beberapa literatur yang pernah saya pelajari, maslaah pengangguran pada akhirnya akan berdampak ke masalah social lainnya. Bila terlalu lama menganggur, seseorang akan merasa dirinya tdak berguna. Akan menyebabkan dirinya stres dan apabila tidak bisa ditangani dengan baik, para penganggur ini akan berpeluang besar untuk melakukan tindakan-tindakan di luar norma yang berlaku di masyarakat.
Setidaknya setiap malam, beberapa Kawan saya yang berstatus pengangguran menghabiskan waktunya di pinggir gang sambil beramain gitar. Mereka seolah lupa bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dipakai hanya untuk bersenang-senang semata. Bila sudah bergerombol, mereka kadang kala dapat dengan mudah memicu pertikaian dengan pihak lain. Tawuran antar kampung atau malah dicap negatif oleh warga sekitar.
Apa yang salah dengan fenomena ini? Pemerintah kah yang mesti disalahkan karena tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan?
Sekali lagi saya tekankan bahwa kurang bijak kalau selalu mengkambinghitamkan pemerintah. Saya berpendapat bila saat ini perlu adanya perubahan paradigma. Dari paradigma individu yang semula mencari pekerjaan, menjadi paradigma individu yang menciptakan lapangan pekerjaan. Menjadi wirausahawan! Ya, itulah jalan keluarnya.
Tidak banyak kaum muda di negeri ini yang mau mengoptimalkan seluruh kemampuannya untuk menjadi wirausaha. Sangat minim sekali orang seperti Elang Gumilang yang di usianya yang masih terbilng muda, mampu memberikan konstribusi positif terhadap masyarakat luas. Elang Gumilang adalah profil ideal wirausaha muda mandiri yang seharusnya dijadkikan contoh oleh kita semua.
Di Indonesia sendiri, jumlah seluruh wirausahanya kurang dari satu persen. Angka yang sangat minim untuk ukuran Indonesia yang notabene berpenduduk lebih dari 220 juta jiwa. Idealnya, dari keseluruhan penduduk yang begitu besar, jumlah seluruh wirausaha setidaknya ada dikisaran 5 persen. Coba bandingkan dengan Singapura atau Amerika Serikat yang banyak sekali melahirkan wirausaha-wirausaha handal.
Minimnya penduduk Indonesia yang memiliki minat untuk berwirausaha seharusnya bisa diatasi dengan sistem pendidikan nasional yang lebih berorientasi terhadap perkembangan skill dan peningkatan sikap mental seorang wirausahawan. Kaum muda yang tentunya akan menerima tongkat estafet dari golongan tua, hendaknya dibekali dengan ilmu kewirausahaan yang mumpuni untuk menyambut era globalisasi. Pasalnya, persaingan ke depan tidaklah mudah. Globalisasi merupakan suatu keadaan di mana batas-batas antar negara menjadi luluh lantah dan secara virtual dunia menjadi menyatu. Dengan demikian, globalisasi memungkinkan setiap orang untuk bekerja dan mencari kehidupan di negara manapun yang dia mau.
Kaum muda yang tidak memiliki skill, knowledge dan atittude yang bagus akan temarjinalkan. Kaum muda yang tidak memiliki jiwa kewirausahaan akan sangat sulit bersaing di masa yang akan datang. Untuk itu perlu ditekankan peningkatan kognitif, afektif dan psikomotorik kaum muda yang dibarengi dengan pemberian nutrisi berupa ilmu dan sikap mental kewirausahaan agar ke depan bangsa ini mampu menghasilkan karya-karya besar yang mampu menarik perhatian dunia.
Rasanya mustahil jika kita mengharapkan semua kaum muda menjadi wirausahawan, tetapi seminimal-minimalnya kaum muda memiliki visi layaknya seorang wirausaha, karena pada hakekatnya wirausaha adalah seorang yang mempu melihat peluang, mengorganisasi sumber daya yang ada, dan memperoleh keuntungan bisnis dari peluang yang ada tersebut.
Pada kenyataannya, masih sangat banyak kaum muda yang masih berpikir salah dengan orientasi ke depan untuk menjadi seorang pegawai, hidup dengan gaji bulanan, lalu begitu terus sampai tua. Mereka takut keluar dari zona nyaman, mereka itulah jenis manusia yang cepat puas dan tidak berani bermain dengan resiko.
Bila sikap mental kaum mudanya saja sudah sedemikian rupa, jangan salahkan siapa-siapa kala nasib bangsa Indonesia ke depan tidak akan jauh berbeda dengan nasib bangsa Indonesia hari ini. Kita tidak akan pernah maju, hanya akan menjadi pengguna barang tanpa pernag berpikir sedikitpun untuk menciptakan barang.
Jumlah penduduk Inodenesia yang demikian besar seharusnya dijadikan variabel untuk memajukan bangsa malalui kerja nyata yang berimbas pada pendapatan perkapita yang meningkat. Namun, kenyataannya tidak begitu. Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar pada saat ini justru merupakan sebuah masalah yang mesti cepat-cepat di atasi. Jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi akan berpotensi menimbulkan masalah pengangguran. Nampaknya kita memang belum bisa menjadi seperti cina yang meski memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, kesejahteraan rakyatnya sudah tidak diragukan lagi.
Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, jika jumlah penduduk yang sedemikian besar tidak segera ditangani akan menimbulkan problem di sana-sini. Jika jumlah penduduk yang begitu besar tidak dibarengi dengan pemberian visi kewirausahaan bagi setiap warga negaranya, Indonesia akan terus menjadi pasar potensial bagi korporasi-korporasi multinasional. Sumber daya alam yang begitu melimpah tedapat di bumi nusantara akan sia-sia karena kita tidak bisa mengolahnya dengan baik. Kekayaan alam itu pada akhirnya akan jatuh ke tangan asing, dieksploitasi dan kita menjadi budak di negeri sendiri. Sebuah negeri yang kaya raya. Ironisnya, budak-budak ini tidak pernah merasa punya masalah. Budak-budak ini sudah puas menjadi konsumen aktif dari barang yang dihasilkan bangsa lain.
Sering kali kita dikacaukan dengan kata-kata kewirausahaan. Kita kerap mengasosiasikan konteks wirausaha tidak lebih dari sekedar pedagang yang menjual barang dari satu konsumen ke konsumen lain. Namun di belakang itu, semestinya kita harus menggali lebih dalam lagi bahwa kewirausahaan sesungguhnya merupakan sebuah watak yang selalu optimis, berwawasan luas, menerima kritik yang membangun, inovatif, kreatif, enerjik, berorientasi ke depan, fleksibel dan menyukai tantangan.
mari berusaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri, wiraswasta bukan ya