“Orang miskin dilarang kuliah!”
Namanya Fajar. Bukan kali ini aja dia bermasalah dengan pihak akademik. Semester kemarin dia bahkan nyaris nggak bisa ikut UAS. Alasannya sederhana: belum bayar SPP! Namun, sekarang masalahnya lebih runyam. Bila semester kemarin dia masih diijinkan ikut perkuliahan, namanya masih tercantun di daftar absen mahasiswa. Sekarang pihak akademik nggak mau berbaik hati. Mereka nggak mau ngebiarain orang miskin macam Fajar ikut kuliah, bisa ngelunjak. Semester ganjil sudah berjalan lebih dari tiga pecan, nama Fajar menghilang dari daftar absen mahasiswa.
Status fajar jadi enggak jelas. Abu-abu. Mahasiswa aktif nggak, mahasiswa drop out juga bukan. Fajar udah berulang kali menghadap pihak akademik. Di ping-pong dari pudir satu ke pudir dua, dari pudir dua ke pudir tiga, dari udir tiga ke pudir satu lagi. Fajarjadi binung sendiri. Nasib orang miskin memang selalu begitu, termarjinalkan dan dipermainkan. Sampai pada saat Fajar menghadap Bu Bekti, dia malah makin puyeng. Bu Bekti ngasih saran cuti kulaih ke Fajar. Sebuah solusi? Bukan! Bahkan, Bu Bekti sempet-sempetnya pamer ke Fajar.
“Anak saya yang masih SMP bayarannya 600 ribu per bulan, tapi saya mampu. KAlo kamu nggak mau cuti, kamu pinjam aja uang ke teman-teman kamu. Saya piker 1.400.000 per satu semester itu sudah murang sekali.”
Yang Bu Bekti nggak tau, temennya Fajar nggak jauh beda dari Fajar. Rata-rata orang susah.
Dari hasil pertemuan dengan Bu Bekti yang entah ke berapa kali, diperoleh kesepakatan kalau piak kampus memberi waktu satu minggu kepada Fajar untuk melunasi kewajibannya. Lewat dari itu, Fajar dianggap cuti. Fajar ketar-ketir. Fajar mau ngelanjutin kuliahnya yang tinggal dua semester lagi, tapi nggak punya biaya. Bkapnya udah setahun nganggur. Gimana caranya dapet duit sebanyak itu?
Fajar nggak sendiri. Gua yakin, masih banyak orang yang memiliki nasib nggak jauh beda atau malah barangkali lebih menyedihkan dari dia. Kalau sudah begitu cita-cita dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 akan menjadi mimpi belaka. Cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akan menjadi isapan jempol saja.