Pagi ini agak berbeda dari pagi sebelumnya. Gua bangun agak terlambat, ampir jam delapan! Kacau! Setelah minum satu gelas air putih, gua keluar rumah. Angin genit menyapa muka gua. Sambil ngulet-ngulet, gua tatap bendera merah putih yang terbuat dari plastik menggantung di sepanjang gang. Bendera-bendera itu disusun sedemikian rupa, dimasukan ke dalam tali, dililitkan dari sat pohon ke pohon lain, diikat dari satu tiang ke tiang lain.
Dari tempat gua berdiri, gua bisa ngeliat anak-anak kecil berlarian menuju lapangan. Sumringah, wajahnya begitu bahagia. Siap untuk, balap karung, panjat pinang, makan paku.
Dan gua pun tersenyum, betapa dulu gua juga pernah merasakan hal yang sama.
Hari ini, 17 Agustus 2009, Indonesia genap berusia 64 tahun.
Setelah 64 tahun Indonesia merdeka adakah Garuda benar-benar sudah terbang tinggi. Melintasi seluruh Nusantara, melindungi setiap tanah tumpah darah. Adakah sorot mata sang Garuda yang tajam itu sudah benar-benar memiliki wibawa sehingga bangsa-bangsa di luar sana menghormati negeri ini.
Mungkin Garuda sudah tidak sekuat dulu, makin lama Garuda kebangaan kita sudah mulai letih melihat polah para pemimpin yang sibuk berpolitik ngawur. Setiap musim kampanye sibuk berjanji palsu, janji-janji surgawi, hanya omong kosong. Janan salahkan bila rakyat kini benar-benar sudah apatis. Tidak peduli dengan Pemilu, partisipasi rakyat di negeri yang katanya menganut asas demokerasi ini, tidak lebih dari 60%. Mereka berpikir, siapa pun pemimpinnya, tidak akan merubah keadaan. Si kaya maikin kaya, si miskin jadi mati.
Munkin, cengkraman Garuda tak sekuat dulu. Kebhinekaan suku, agama, ras dan adat istiadat yang sebenarnya bisa menjadi kekuatan, justru agak sedikit menggangu perjalanan bangsa. Kasus bom belum lama ini menjadi bukti bahwa cengkraman Garuda tidak sekuat dulu. Selalu ada ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang mencoba mengalahkan kokohnya tubuh Garuda. Seharusnya semua bersatu dibawah cengkraman Garuda. Bila ada perbedaan pendapat utarakan dengan elegan, bukan meledakan bom dan membuat kekacauan. Apapun yang mereka buat, jangan pedulikan. Kita erat bergenggaan tangan lalu teriak, kami tidak takut!!!
Sang Merah-Putih yang perwira itu makin lusuh, mungkin sudah lama sekali tidak diurus. Merah melambangkan keberanian, penuh wibawa. Putih melambangkan kesucian, penuh kharisma. Namun kini warnanya sudah semakin pudar. Keberanian itu sudah surut, ketika kapal laut negara asing masuk ke perairan kita, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak tegas, tidak berwibawa. Dan parahnya lagi, kesucian itu sudah dinodai dengan ulah badut-badut politik. Suka tidur waktu sidang, berantem kalo mau mengambil keputusan, bekerjasama dalam korupsi. Prinsip mereka tak lain: Keuangan yang maha esa.
Di hari yang berbahagia ini, mungkin kita harus sama-sama mendengarkan lagu dari Bang Iwan Fals, sebuah lagu yang bisa memompa nasionalisme kita. Lagu ini selalu bisa membuat gua bergetar. Liriknya memang pedas, tapi menempeleng setiap jiwa putra-putri Ibu Pertiwi yang rindu akan kebesaran Garuda.
Bangunlah Putra-Putri Pertiwi
Sorot matamu tajam namun ragu
Kokoh paruhmu semua tahu
Tegak tubuhmu takkan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkram
Pulau-pulau yang berpencar
Bersatu dalam cengkrammu
Angin genit mengelus merah putihmu
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah darahmu tertanam di dada
Putihmu suci penuh kharisma
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam kibarmu
TERBANGLAH GARUDAKU
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu
BERKIBARLAH BENDERAKU
Singkirkan benalu di tiangmu
Hei jangan malu dan jangan ragu
TUNJUKKAN PADA DUNIA
Bahwa sebenarnya kita MAMPU
Mentari pagi mulai membumbung tinggi
Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita BERJANJI
Hari ini esok pagi atau lusa nanti
GARUDA BUKAN BURUNG PERKUTUT
SANGSAKA BUKAN SANDANG PEMBALUT
Dan coba kau dengarkan
PANCASILA itu BUKANLAH RUMUS KODE BUNTUT
Yang hanya berisi harapan
Yang hanya berisi khayalan
pertamax…
Sekali Merdeka tetap Merdeka…
Merdeka sekali Merdeka Tetap Merdeka
Terima kasih atas kunjungannya sobat,
Kata orang bijak, perayaan kemerdekaan selalu identik dengan proses introspeksi untuk merenung tentang semua proses panjang perjuangan.Alasannya karena kemerdekaan itu bukanlah tujuan akhir, tapi justru tujuanawal untuk menapaki perjuangan yang komplek dan berkelanjutan.
Salam sejahtera selalu,
benar 1 X merdeka tetap merdeka..,
sampai kapan pun harus merdeka ..,
MERDEKA BUNG!
Jadi Ikutan Semangat..
Indonesia tanah airku
tanah tumpah darahku
Assalamu’alaikum,
Tulisan yang bagus. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya di blog saya, semoga silaturahim kita selalu terjaga.
(Dewi yana)
http://jalandakwahbersama.wordpress.com
http://dakwahdewiyana.blogdetik.com
Hi om,
lam kenal dulu yea,
Q dah baca buku om yg judulnya pejantan dodol,
dan juga sering ngujungin blog om,
tapi baru kali ini Q comment di blog om.
tentang kemerdekaan indonesia yg ke 64 tahun,
banyak kegiatan yg seru untuk merayakan hari kemerdekaan ini.
Semoga semangat juang para pahlawan di masa lalu bisa diikuti oleh generasi sekarang.