Sejak bergabung dengan Kelas Bermain ini, gua sadar bahwa posisi gua enggak aman.
Tanggal 11 Oktober, untuk pertama kalinya gua menginjakan kaki di Kelas Bermain. Sebagai anak baru, gua diwajibkan untuk tandom. Apa itu tandom? Okeh, jujur gua juga enggak tau artinya. Yang pasti, waktu itu gua kayak anak ilang. Sendirian, melihat orang-orang muda sibuk bekerja. Hingga akhirnya gua diminta mendekat kepada seorang lelaki yang bertampang ramah. Gua liatin bagaimana dia ngelakuin setiap tugas yang diberikan. Dari awal sampai akhir. Lalu gua diajrin pelan-pelan bagaimana mengerjakan pekerjaan ini.
Setiap kali dia ngejelasin, gua mengangguk takzim, seolah-olah mengerti.
“Jadi, lo mesti idupin dulu komputernya, masuk ke new account, masukin password, nah disana nanti ada data-data yang mesti lo kerjain. Ngerti?” kata dia.
“Paham, Bang.” Gua menjawab dengan tegas.
Tige menit kemudian.
“Bang, ehm….. tadi gimana? Setelah hidupin komputer, terus masukin password. terus masuk ke mana?” Gua sangat polosnya.
Untung aja dia dengan sabar membimbing gua, dan bukannya berkata, “Masuk ke sumur, Kris.”
Setelah tiga jam lebih kayak orang idiot, akhirnya gua sadar, ternyata gua enggak sendirian. Masih ada orang idiot lainnya. Rano dan Dewi. Kedua orang tersebut juga anak baru. Kami sama-sama baru tandom. Bedanya, Dewi udah 3 hari, Rano udah 4 hari, sedangkan gua baru 1 hari. Dewi berbadan sangat besar, Rano sedikit seram, sedangkan gua kurus kering.
Sesaat sebelum istirahat, kami bertiga menghadap Supervisor. Biasa, ditanya macem-macem. Dites pemahamannya tentang pekerjaan ini. Dewi memaparkan dengan sangat sempurna, gua menjelaskan dengan biasa-biasa saja dan Rano menjelaskan dengan gagu.
“Kamu kan tandom udah empat hari, masak belum paham juga? Liat tuh kris, baru satu hari aja udah lumayan,” kata Supervisor kepada Rano.
Sayap gua tiba-tiba keluar, terbang ke angkasa. Tapi sejujurnya gua enggak suka dibanding-bandingin, enggak enak sama Rano.
Keesokan harinya, gua sudah diberikan password dan dipercayakan untuk mulai bekerja. Begitu pula dengan Dewi dan Rano.
Gua duduk dia area work station dengan sangat gugupnya. Supervisor memperhatikan gua dengan seksama. Gua nyalain komputer. Muncul desktop background. Gua gerak-gerakin mouse.
Gugup.
Supervisor menatap gua.
Hening.
“Pak, ehm…. setelah muncul desktop, kita klik apa?” Gua bertanya yang mana langsung disambut dengan pelototan galak.
“Kamu sudah siap belum? Kalo belum mending hari ini tandom aja lagi. Saya enggak mau kamu terjebak dalam pemahaman yang kurang menyeluruh.”
Karena enggak mau disuruh tandom lagi. Gua menggerak-gerakan mouse dengan cepat, sambil berpikir.
“Oh, saya ingat, masuk ke new aacount, masukin password. Ya Allah, kenapa tadi lupa yah? Ck, ck, ck. . . . sungguh aneh.”
Supervisor langsung minggat, ninggalin gua.
Yang paling kasihan Rano. Nampaknya Supervisor belum percaya banget nyerahin tugas ini ke Rano. Berkali-kali Mr. Supervisor bilang, “Kalo kamu belum mengerti juga, bisa-bisa kamu saya balikin ke vendor.”
Seperti yang udah gua sebutkan di atas, Rano ini berbadan tinggi, tampangnya lumayan sangar. Sedikit mirip preman, tapi suaranya tipis. Kadang, kalo dia ngomong, enggak terdegar di telinga. Nah, itu gua enggak ngerti, suara Rano yang emang terlalu pelan atau gua yang udah mulai budeg.
Beberapa hari kemudian Dewi resign. Gua enggak tau apa alasannya.
Dari hasil perbincangan gua dengan beberapa orang. Diketahui bahwa sistem dari Kelas Bermain ini sangat kejam. Beberapa bulan sekali pasti aja ada yang dikeluarin, alasannya enggak bisa memenuhi target. Beginilah sistem kapitalisme. Karyawan bener-bener di push abis-abisan sama korporasi. Kalo kinerja lo bagus, lo dibayar mahal. Kalo lo enggak bisa memenuhi target, siap-siap ditendang. Bahkan, setiap harinya, Supervisor ngebuat rekap performance. Untuk yang lima terbawah, dikasih keterangan: POTENSI SP. Kalau dalam bahasa sederhananya: hati-hati, besok lo bakal dikeluarin!
Dengan sistem yang seperti itu, wajar saja enggak ada yang bertahan lama di Kelas Bermain ini. Yang paling lama Anwar, dia ampir dua tahun di sini. Tapi sempet dikeluarin sekitar 9 bulan. Dia dipanggil lagi, karena emang Kelas Bermain membutuhkan banyak orang.
Untunglah gua masih berada di level trainee. Kompetisinya enggak seberat yang ada di level senior.
Gua teringat kata-kata Supervisor, “Kamu selama tiga bulan ini masa percobaan dulu. Nanti kalo misalnya bagus dilanjut sampai satu tahun.”
Kenyataannya, Supervisor gua itu berdusta. Hari jum’at kemarin Rano dikeluarin gara-gara dianggap memiliki performance yang jelek. Enggak bisa memenuhi target. Sebenarnya Rano enggak salah, lagian dia kan anak baru, baru tiga minggu gitu loh. Dalam tahap penyesuaian begitu. Kurang bijaksana rasanya kalau dia langsung ditendang begitu saja. Seharusnya dia diberikan kesempatan dulu untuk beradabtasi, untuk belajar lebih giat lagi. Nanti kalo misalnya sudah tiga bulan dan belum ada perkambangan baru deh boleh dikeluarin.
Mana kata-kata yang dulu, “KAMU SELAMA TIGA BULAN INI MASA PERCOBAAN DULU. NANTI KALO MISALNYA BAGUS DILANJUT SAMPAI SATU TAHUN.”
Alah gombal, ini baru tiga minggu udah ditendang!

