Feeds:
Posts
Comments

Suatu masalah yang banyak sekali saya dapatkan di wilayah sekitar tempat tinggal saya adalah banyaknya kaum muda yang mengganggur. Setelah tamat SMA, banyak dari Kawan-Kawan saya yang tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena persoalan biaya. Bukan tanpa ikhtiar, mereka pun sebenarnya sudah mencoba melamar ke berbagai perusahaan. Hasilnya belum memuaskan. Lebih banyak Kawan saya yang ditolak ketimbang diterima bekerja.

Saya berpikir bahwa masalah pengangguran di Indonesia pada umunya telah mencapai tahap yang cukup krusial. Secara pasti saya tidak mengetahui berapa angka pengangguran di negeri ini. Bila dibiarkan terus menerus, masalah ini akan melebar ke berbagai sektor. Dalam beberapa literatur yang pernah saya pelajari, maslaah pengangguran pada akhirnya akan berdampak ke masalah social lainnya. Bila terlalu lama menganggur, seseorang akan merasa dirinya tdak berguna. Akan menyebabkan dirinya stres dan apabila tidak bisa ditangani dengan baik, para penganggur ini akan berpeluang besar untuk melakukan tindakan-tindakan di luar norma yang berlaku di masyarakat.

Setidaknya setiap malam, beberapa Kawan saya yang berstatus pengangguran menghabiskan waktunya di pinggir gang sambil beramain gitar. Mereka seolah lupa bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dipakai hanya untuk bersenang-senang semata. Bila sudah bergerombol, mereka kadang kala dapat dengan mudah memicu pertikaian dengan pihak lain. Tawuran antar kampung atau malah dicap negatif oleh warga sekitar.

Apa yang salah dengan fenomena ini? Pemerintah kah yang mesti disalahkan karena tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan?

Sekali lagi saya tekankan bahwa kurang bijak kalau selalu mengkambinghitamkan pemerintah. Saya berpendapat bila saat ini perlu adanya perubahan paradigma. Dari paradigma individu yang semula mencari pekerjaan, menjadi paradigma individu yang menciptakan lapangan pekerjaan. Menjadi wirausahawan! Ya, itulah jalan keluarnya.

Tidak banyak kaum muda di negeri ini yang mau mengoptimalkan seluruh kemampuannya untuk menjadi wirausaha. Sangat minim sekali orang seperti Elang Gumilang yang di usianya yang masih terbilng muda, mampu memberikan konstribusi positif terhadap masyarakat luas. Elang Gumilang adalah profil ideal wirausaha muda mandiri yang seharusnya dijadkikan contoh oleh kita semua.

Di Indonesia sendiri, jumlah seluruh wirausahanya kurang dari satu persen. Angka yang sangat minim untuk ukuran Indonesia yang notabene berpenduduk lebih dari 220 juta jiwa. Idealnya, dari keseluruhan penduduk yang begitu besar, jumlah seluruh wirausaha setidaknya ada dikisaran 5 persen. Coba bandingkan dengan Singapura atau Amerika Serikat yang banyak sekali melahirkan wirausaha-wirausaha handal.

Minimnya penduduk Indonesia yang memiliki minat untuk berwirausaha seharusnya bisa diatasi dengan sistem pendidikan nasional yang lebih berorientasi terhadap perkembangan skill dan peningkatan sikap mental seorang wirausahawan. Kaum muda yang tentunya akan menerima tongkat estafet dari golongan tua, hendaknya dibekali dengan ilmu kewirausahaan yang mumpuni untuk menyambut era globalisasi. Pasalnya, persaingan ke depan tidaklah mudah. Globalisasi merupakan suatu keadaan di mana batas-batas antar negara menjadi luluh lantah dan secara virtual dunia menjadi menyatu. Dengan demikian, globalisasi memungkinkan setiap orang untuk bekerja dan mencari kehidupan di negara manapun yang dia mau.
Kaum muda yang tidak memiliki skill, knowledge dan atittude yang bagus akan temarjinalkan. Kaum muda yang tidak memiliki jiwa kewirausahaan akan sangat sulit bersaing di masa yang akan datang. Untuk itu perlu ditekankan peningkatan kognitif, afektif dan psikomotorik kaum muda yang dibarengi dengan pemberian nutrisi berupa ilmu dan sikap mental kewirausahaan agar ke depan bangsa ini mampu menghasilkan karya-karya besar yang mampu menarik perhatian dunia.
Rasanya mustahil jika kita mengharapkan semua kaum muda menjadi wirausahawan, tetapi seminimal-minimalnya kaum muda memiliki visi layaknya seorang wirausaha, karena pada hakekatnya wirausaha adalah seorang yang mempu melihat peluang, mengorganisasi sumber daya yang ada, dan memperoleh keuntungan bisnis dari peluang yang ada tersebut.
Pada kenyataannya, masih sangat banyak kaum muda yang masih berpikir salah dengan orientasi ke depan untuk menjadi seorang pegawai, hidup dengan gaji bulanan, lalu begitu terus sampai tua. Mereka takut keluar dari zona nyaman, mereka itulah jenis manusia yang cepat puas dan tidak berani bermain dengan resiko.

Bila sikap mental kaum mudanya saja sudah sedemikian rupa, jangan salahkan siapa-siapa kala nasib bangsa Indonesia ke depan tidak akan jauh berbeda dengan nasib bangsa Indonesia hari ini. Kita tidak akan pernah maju, hanya akan menjadi pengguna barang tanpa pernag berpikir sedikitpun untuk menciptakan barang.

Jumlah penduduk Inodenesia yang demikian besar seharusnya dijadikan variabel untuk memajukan bangsa malalui kerja nyata yang berimbas pada pendapatan perkapita yang meningkat. Namun, kenyataannya tidak begitu. Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar pada saat ini justru merupakan sebuah masalah yang mesti cepat-cepat di atasi. Jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi akan berpotensi menimbulkan masalah pengangguran. Nampaknya kita memang belum bisa menjadi seperti cina yang meski memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, kesejahteraan rakyatnya sudah tidak diragukan lagi.

Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, jika jumlah penduduk yang sedemikian besar tidak segera ditangani akan menimbulkan problem di sana-sini. Jika jumlah penduduk yang begitu besar tidak dibarengi dengan pemberian visi kewirausahaan bagi setiap warga negaranya, Indonesia akan terus menjadi pasar potensial bagi korporasi-korporasi multinasional. Sumber daya alam yang begitu melimpah tedapat di bumi nusantara akan sia-sia karena kita tidak bisa mengolahnya dengan baik. Kekayaan alam itu pada akhirnya akan jatuh ke tangan asing, dieksploitasi dan kita menjadi budak di negeri sendiri. Sebuah negeri yang kaya raya. Ironisnya, budak-budak ini tidak pernah merasa punya masalah. Budak-budak ini sudah puas menjadi konsumen aktif dari barang yang dihasilkan bangsa lain.

Sering kali kita dikacaukan dengan kata-kata kewirausahaan. Kita kerap mengasosiasikan konteks wirausaha tidak lebih dari sekedar pedagang yang menjual barang dari satu konsumen ke konsumen lain. Namun di belakang itu, semestinya kita harus menggali lebih dalam lagi bahwa kewirausahaan sesungguhnya merupakan sebuah watak yang selalu optimis, berwawasan luas, menerima kritik yang membangun, inovatif, kreatif, enerjik, berorientasi ke depan, fleksibel dan menyukai tantangan.

Sri dan Kisahnya

Ada dua orang cewek. Satu pakai sweater hitam dan satu lagi pakai sweater abu-abu. Dua-duanya anak kuliahan. Dua-duanya masuk ke dalam angkot 105 jurusan Terminal Depok-Pondok labu secara bersamaan. Dua-duanya teman akrab.

Waktu itu gua ada di antara mereka, duduk di samping si hitam, di depan si abu-abu. Diam-diam gua perhatiin si abu-abu. Dia keliatan sibuk menerima telepon. Wajahnya serius, mata menerawang. Kadang dia pindahkan hp itu, dari kanan ke kiri, dari kiri ke kanan, begitu seterusnya..

”Perasaan itu nggak bisa diatur-atur. Kalo kamu nggak bisa ngbuat Sri nyaman, Sri akan mencari kenyamanan dari cowok lain.”

Oh, ternyata nama si abu-abu itu Sri. Lantas, Sri terdiam cukup lama. Temennya Sri, si sweater hitam nggak banyak komentar. Beberapa saat kemudian Sri menutup sambungan telepon. Matanya kosong, beraca-kaca. Pandanganya lurus ke depan. Perlahan namun pasti, sebutir air turun dari matanya. Sri ngambl sapu tangan, ngelap pipinya yang sedikit basah.

“Dia nuntut kenyamanan dari gue, tapi dia sendiri nggak ngebuat gue nyaman,” kata Sri, ngajak si hitam ngobrol.
“Masak dia ngelarang-larang gue pergi ke kampus. Katanya, buat apa ke kampus, kan udah nggak kuliah lagi. Soal informasi sih gampang, tanya aja ke temen deket.”

Oh, tenyata cowknya posesif. Suka ngatur-ngatur.

“Gua aja enggak pernag ngelarang-larang dia. Nggak sadar apa kalo kata-kaanya itu bikin gue nggak nyaman. Dia nuntut kenyamanan dari gue, tapi dia sendiri nggak bisa ngebuat gue nyaman.”

Oke, kalimat terakhir kayaknya gua sering denger deh.

Di jadiin tempat curhat Sri, si hitam nggak anyak komen. Masih diem kayak stupa.

”Kalo lagi yusun skripsi kayak gini mendingan jomblo. Biar bisa konsentrasi penuh. Enak aja dia ngatur-ngatur gue. Maunya gue ngebuat dia nyaman, tapi dia sendiri nggak bisa ngebuat gue nyaman…”

nb: sampe gue nulis postingan ini, kata-kata Sri masih terngiang-ngiang di telinga gua. Dia nuntut kenyamanan dari gue, tapi dia sendiri nggak ngebuat gue nyaman

Pujaan Hati

Boleh jadi lo nggak suka mereka.

Sejak pertama terjun ke belantika musik nasional, banyak orang yang mencibir. Dibilang kampungan, dibilang nggak berkelas, dibilang nggak punya skill, dibilang tampangnya cupu.

Kalo didengerin, musik mereka memang sederhana. Dengan nada-nada khas musik melayu dan dengan lirik yang lugas, jujur, dan apa adanya, toh akhirnya mereka berhasil membuktikan kepada kita semua kalau tampang bukanlah hal yang utama dalam bermusik. Musik ya musik, nggak ada hubungannya sama sekali dengan wajah tampan dan sederet ‘syarat-syarat’ nggak lazim lainnya. Bermusiklah dengan hati, selesai semua urusan. Lagu mereka pun diputar di mana-mana. Di televisi, radio, stasiun, terminal, kamar kos. Angka penjualan ring back tone mereka pun konon terbilang tinggi. Laris manis bak kacang goreng.

Diakui atau enggak, pasar pada saat ini memang berpihak pada musik yang ringan dengan lirik yang mudah dicerna. Sekarang, nggak perlu bikin musik yang ribet, nggak perlu bikin lagu yang bermutu secara musikalitas. Cukup dengan nada minor dan lirik yang ‘berdarah-darah’, maka orang akan menoleh ke arah lo.

Terlepas dari mukanya Andhika yang orang bilang cupu abis, harus gua akui kalo beberapa hari ini gua selalu terngiang-ngiang lagu baru mereka. Pujaan Hati. Bukan! Gua suka sama lagu itu buka karena lirikya yang ‘mengena’. Gua suka Pujaan Hati karena lagunya memang enak. Notasi-notasinya sederhana. Video klipnya sederhana, sesederhana tampang-tampang para personilnya. Aduh, kenapa gua korelasiin ke tampang ya?

mengapa kau tak membalas cintaku
mengapa engkau abaikan rasaku
ataukah mungkin hatimu membeku
hingga kau tak pernah pedulikan aku

Bagaimana Bisa Cerdas?

“Orang miskin dilarang kuliah!”

Namanya Fajar. Bukan kali ini aja dia bermasalah dengan pihak akademik. Semester kemarin dia bahkan nyaris nggak bisa ikut UAS. Alasannya sederhana: belum bayar SPP! Namun, sekarang masalahnya lebih runyam. Bila semester kemarin dia masih diijinkan ikut perkuliahan, namanya masih tercantun di daftar absen mahasiswa. Sekarang pihak akademik nggak mau berbaik hati. Mereka nggak mau ngebiarain orang miskin macam Fajar ikut kuliah, bisa ngelunjak. Semester ganjil sudah berjalan lebih dari tiga pecan, nama Fajar menghilang dari daftar absen mahasiswa.

Status fajar jadi enggak jelas. Abu-abu. Mahasiswa aktif nggak, mahasiswa drop out juga bukan. Fajar udah berulang kali menghadap pihak akademik. Di ping-pong dari pudir satu ke pudir dua, dari pudir dua ke pudir tiga, dari udir tiga ke pudir satu lagi. Fajarjadi binung sendiri. Nasib orang miskin memang selalu begitu, termarjinalkan dan dipermainkan. Sampai pada saat Fajar menghadap Bu Bekti, dia malah makin puyeng. Bu Bekti ngasih saran cuti kulaih ke Fajar. Sebuah solusi? Bukan! Bahkan, Bu Bekti sempet-sempetnya pamer ke Fajar.

“Anak saya yang masih SMP bayarannya 600 ribu per bulan, tapi saya mampu. KAlo kamu nggak mau cuti, kamu pinjam aja uang ke teman-teman kamu. Saya piker 1.400.000 per satu semester itu sudah murang sekali.”

Yang Bu Bekti nggak tau, temennya Fajar nggak jauh beda dari Fajar. Rata-rata orang susah.

Dari hasil pertemuan dengan Bu Bekti yang entah ke berapa kali, diperoleh kesepakatan kalau piak kampus memberi waktu satu minggu kepada Fajar untuk melunasi kewajibannya. Lewat dari itu, Fajar dianggap cuti. Fajar ketar-ketir. Fajar mau ngelanjutin kuliahnya yang tinggal dua semester lagi, tapi nggak punya biaya. Bkapnya udah setahun nganggur. Gimana caranya dapet duit sebanyak itu?

Fajar nggak sendiri. Gua yakin, masih banyak orang yang memiliki nasib nggak jauh beda atau malah barangkali lebih menyedihkan dari dia. Kalau sudah begitu cita-cita dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 akan menjadi mimpi belaka. Cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akan menjadi isapan jempol saja.

Seorang filsuf dari Yunani pernah berkata,
“Nasib terbaik adalah tak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.”

Aku beruntung telah dilahirkan
Aku tidak mau mati muda
Aku juga enggan betah berlama-lama di dunia
Aku mau umurku berkualitas
Berguna bagi semesta alam

Bahagialah mereka yang dekat dengan Tuhan

Depok, 27 September 2009

Sungkeman

Taqabbalallahu minna waminkum, taqabbal ya Karim.

Tanpa banyak omong, tanpa banyak bencong (ehm, banyak cincong maksudnya), tanpa perlu bermetafora, di kesempatan yang berbahagia ini Krismansyah dan segenap crew sinetron Isabella ingin mengucapkan:

“Selamat hari raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah SWT selalu memberikan kebaikan kepada kita semua.”

Sesuai dengan kebiasaan setiap tahunnya, Lebaran hari pertama gua isi dengan kegiatan mengunjungi rumah tetangga terdekat. Sebelom acara bersalam-salaman dengan tetangga di mulai, sesaat setelah solat Ied, dan sesaat setelah gua menyantap sepiring ketupat plus krecek plus rendang plus emping plus aer putih, ada semacam ritual ‘sungkeman’ antar anggota keluarga. Harap dicatat bahwa keluarga gua bukanlah seperti keluarga-keluarga lainnya. Keluarga gua bisa dibilang cuek dan nggak suka dengan kegiatan-kegiatan yang terlalu formal. Begitu juga saat sungkeman di mulai. Bila di keluarga normal pada umumnya sungkeman selalu diisi dengan permintaan maaf yang dibarengi dengan isak tangis dan jerit haru, lain halnya dengan keluarga gua.

Nyokap duduk di samping Bokap yang lagi asik ngerokok. Sekedar pemberitahuan aja, kalo bokap tuh suka banget sama rokok Sampoerna keretek (nggak penting juga sih gua kasih tau mereknya), Nyokap lalu degan tampang (yang dipaksain) sedih lalu meraih tangan Bokap.

“Mohon maaf lahir dan batin ya, Pak.” Tampang Nyokap masih (dipaksain) sedih.

“Heh…” Ekspresi Bokap datar. Ngisep Sampoerna keretek, hebuskan asepnya.

Nyokap nyium tangan Bokap. Abis itu sambil cengengesan kembali duduk di samping Bokap. Tanpa alasa yang cukup logis lalu Nyokap ngeplak, ralat: nggak tau ngeplak beneran ato cuman bercanda, pokoknya Nyokap terlihat menoyor Bokap sambil terus cengengesan.

Selesai Nyokap sungkeman sama Bokap. Kini giliran anak, cucu dan menantu. Adalah Mas Anto (suaminya kakak gua) yang pertama kali dateng dan bersimpuh di kaki Bokap. Mas Anto dengan suara putus-putus lalu meminta maaf kalo ada perbuatannya yang salah selama satu tahun terakhir ini, tampangnya beneran sedih nggak kek Nyokap yang ketauan banget maksa. Lama banget Mas Anto bersimpuh di depan Bokap. Ngomong panjang lebar, megangin tangan Bokap, mimiknya sendu, suaranya haru. Selesai Mas Anto, baru deh Kak Ros.

“Mohon maaf lahir dan batin…” Kak Ros salaman sama Bokap. Udah gtu doang. Nggak kurang, nggak lebih.

Abis Kak Ros, giliran gua.

Gua menatap wajah Bokap yang makin lama terlihat makin tua. Garis-garis keriput hinggap di sana. Bokap nggak bisa menang melawa usia walopun udah pake baju baru sekalipun. Gua lalu meraih tangan Bokap.

“Maafin Kris ya, Pak…”

Abis salaman sama Bokap, gua salaman sama Nyokap.

“Maafin Kris ya, Mah…”

Datar. Tanpa ekspresi sedih. Tanpa berlama-lama. Tapi insya Allah gua ngucapinnya denga sungguh-sungguh. Ikhlas. Karakter keluarga gua emang sangat sederhana. Apa adanya, nggak dilebih-lebihin.

Selesai gua sungkeman, Nyokap ngeliatin anak-anaknya.

“Kayaknya ada yang kurang?” kata Nyokap.

“Iya, kayaknya ada yang kurang.” Bokap nimpalin.

Nggak lama, Nyokap sadar akan kekurangan itu.

“Adek kamu mana?”

“Adek masih tidur, Mah…”

C.a.n.t.i.k…?

Cantik, salah satu kata terindah yang ada dalam kosakata bahasa umat manusia. Setiap pria pasti mengidam-idamkan isteri yang cantik. Wanita berperang melawan waktu dan berupaya mati-matian untuk selalu tampil cantik. Tidak ada yang salah dengan kata ‘cantik’. Tidak ada yang salah dengan kecantikan. Tidak ada yang salah dengan wanita cantik.

Cantik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai indah, elok, rupawan, tampak serasi. Tidak dikatakan lebih lanjut tentang bagaimana wanita yang terlihat elok itu. Tidak dijelaskan apa saja parameter wanita yang rupawan. Apakah wanita yang berbibir tipis? Atau justru yang dikatakan elok itu wanita yang berbibir tebal?

Cantik itu relatif. Definisi kecantikan selalu berubah menurut waktu, tempat dan siapa yang menilai. Hari ini Luna Maya memang terlihat cantik, lalu bagaimana dengan 70 tahun yang akan datang? Innalillahi Wainnailaihi Rojiun! Banyak orang yang bilang kalau Sandra Dewi itu cantk (dan gua sebagai orang awam percaya aja kalo dia cantik), tetapi itu tidak mutlak, masih tergantung di mana melihatnya. Ketika sedang berada di tempat syuting memang cantik, tetapi kalo melihatnya di kontes Ratu Sejagat, pasti akan banyak orang yang berpaling.

“Ah, gua kira Sandra Dewi itu cantik, ternyata miss Panama jauh lebih mantabh…”

Sudahlah, percaya aja kalau cantik itu relatif. Menurut pria A, Mulan Jamilah itu cantik dan terlihat perfect, tetapi belum pasti bagi pria B dan pria C.

Pria A : Gila, kok ada ya makhluk secantik Mulan Jamilah? Gua rela gantung diri deh asal dia mau kawin sama gua.
Pria B : Apa lo bilang? Mulan Jamilah cantik? Mata lo kotok ya? Cewek gendut kek gitu lo blang cantik. Nyebut, cuy. Nyebut….
Pria C : Iya nih, matanya abis kecolok garpu kali. Mulan Jamilah tuh biasa aja. Cantik kan juga Ahmad Dhani.

Sebagian dari kita mungkin mengatakan bahwa wanita yang berkulit putih itu cantik, sebagian yang lain berpendapat kalau wanita yang berkulit sawo matang jauh lebih cantik. Sebagian yang terakir bahkan dengan penuh semangat mengatakan bahwa wanita yang berkulit hitam khas orang negro justru yang super duper cantik. Lebih eksotis dan menggairahkan katanya. Ada orang yang mengatakan bahwa wanita cantik itu adalah yang kakinya jenjang, dan tingginya nyaingin tiang listrik. Padahal ada sebagian lain mengatakan bahwa yang cantik itu adalah wanita yang kecil imut-imut.

Yap, setiap orang mungkin mempunyai parameter dan definisi masing-masing tentang apa itu cantik.

Dan, gua sendiri pun punya definisi tentan apa itu cantik. Cantik bukan hanya ada di wajah, tapi terutama harus ada di hati dan akhlak wanita. Kita yakini sama-sama kalau kecantikan fisik akan mengalami fase penurunan seiring dengan bertambahnya usia. Namun, kecantikan hati dan akhlak tak akan pudar dimakan waktu. Cahayanya akan terus bersinar, menerangi setiap hati laki-laki yang beriman. Sejatinya, kecantikan yang sempurna itu merupakan perpaduan antara pesona keindahan lahir dan batin sebagai anugerah dari Allah yang mesti dijaga dan dipelihara sesuai ketentauan syariat. Wajah dan setiap jengkal dari tubuh kita diciptakan oleh Allah, tetapi kita bertanggung jawab sepenuhnya terhadap ekspresi yang kita lakukan terhadap amanah yang luar biasa itu.

64 Tahun

Pagi ini agak berbeda dari pagi sebelumnya. Gua bangun agak terlambat, ampir jam delapan! Kacau! Setelah minum satu gelas air putih, gua keluar rumah. Angin genit menyapa muka gua. Sambil ngulet-ngulet, gua tatap bendera merah putih yang terbuat dari plastik menggantung di sepanjang gang. Bendera-bendera itu disusun sedemikian rupa, dimasukan ke dalam tali, dililitkan dari sat pohon ke pohon lain, diikat dari satu tiang ke tiang lain.

Dari tempat gua berdiri, gua bisa ngeliat anak-anak kecil berlarian menuju lapangan. Sumringah, wajahnya begitu bahagia. Siap untuk, balap karung, panjat pinang, makan paku.

Dan gua pun tersenyum, betapa dulu gua juga pernah merasakan hal yang sama.

Hari ini, 17 Agustus 2009, Indonesia genap berusia 64 tahun.

Setelah 64 tahun Indonesia merdeka adakah Garuda benar-benar sudah terbang tinggi. Melintasi seluruh Nusantara, melindungi setiap tanah tumpah darah. Adakah sorot mata sang Garuda yang tajam itu sudah benar-benar memiliki wibawa sehingga bangsa-bangsa di luar sana menghormati negeri ini.

Mungkin Garuda sudah tidak sekuat dulu, makin lama Garuda kebangaan kita sudah mulai letih melihat polah para pemimpin yang sibuk berpolitik ngawur. Setiap musim kampanye sibuk berjanji palsu, janji-janji surgawi, hanya omong kosong. Janan salahkan bila  rakyat kini benar-benar sudah apatis. Tidak peduli dengan Pemilu, partisipasi rakyat di negeri yang katanya menganut asas demokerasi ini, tidak lebih dari 60%. Mereka berpikir, siapa pun pemimpinnya, tidak akan merubah keadaan. Si kaya maikin kaya, si miskin jadi mati.

Munkin, cengkraman Garuda tak sekuat dulu. Kebhinekaan suku, agama, ras dan adat istiadat yang sebenarnya bisa menjadi kekuatan, justru agak sedikit menggangu perjalanan bangsa. Kasus bom belum lama ini menjadi bukti bahwa cengkraman Garuda tidak sekuat dulu. Selalu ada ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang mencoba mengalahkan kokohnya tubuh Garuda. Seharusnya semua bersatu dibawah cengkraman Garuda. Bila ada perbedaan pendapat utarakan dengan elegan, bukan meledakan bom dan membuat kekacauan. Apapun yang mereka buat, jangan pedulikan. Kita erat bergenggaan tangan lalu teriak, kami tidak takut!!!

Sang Merah-Putih yang perwira itu makin lusuh, mungkin sudah lama sekali tidak diurus. Merah melambangkan keberanian, penuh wibawa. Putih melambangkan kesucian, penuh kharisma. Namun kini warnanya sudah semakin pudar. Keberanian itu sudah surut, ketika kapal laut negara asing masuk ke perairan kita, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak tegas, tidak berwibawa. Dan parahnya lagi, kesucian itu sudah dinodai dengan ulah badut-badut politik. Suka tidur waktu sidang, berantem kalo mau mengambil keputusan, bekerjasama dalam korupsi. Prinsip mereka tak lain: Keuangan yang maha esa.

Di hari yang berbahagia ini, mungkin kita harus sama-sama mendengarkan lagu dari Bang Iwan Fals, sebuah lagu yang bisa memompa nasionalisme kita. Lagu ini selalu bisa membuat gua bergetar. Liriknya memang pedas, tapi menempeleng setiap jiwa putra-putri Ibu Pertiwi yang rindu akan kebesaran Garuda.

Bangunlah Putra-Putri Pertiwi

Sorot matamu tajam namun ragu

Kokoh paruhmu semua tahu

Tegak tubuhmu takkan tergoyahkan

Kuat jarimu kala mencengkram

Pulau-pulau yang berpencar

Bersatu dalam cengkrammu

Angin genit mengelus merah putihmu

Yang berkibar sedikit malu-malu

Merah darahmu tertanam di dada

Putihmu suci penuh kharisma

Bermacam suku yang berbeda

Bersatu dalam kibarmu

TERBANGLAH GARUDAKU

Singkirkan kutu-kutu di sayapmu

BERKIBARLAH BENDERAKU

Singkirkan benalu di tiangmu

Hei jangan malu dan jangan ragu

TUNJUKKAN PADA DUNIA

Bahwa sebenarnya kita MAMPU

Mentari pagi mulai membumbung tinggi

Bangunlah putra putri ibu pertiwi

Mari mandi dan gosok gigi

Setelah itu kita BERJANJI

Hari ini esok pagi atau lusa nanti

GARUDA BUKAN BURUNG PERKUTUT

SANGSAKA BUKAN SANDANG PEMBALUT

Dan coba kau dengarkan

PANCASILA itu BUKANLAH RUMUS KODE BUNTUT

Yang hanya berisi harapan

Yang hanya berisi khayalan

rendra333

Si Anjing Liar Dari Jogjakarta
Apa Kabarmu ?
Kurindu Gonggongmu
Yang Keras Hantam Cadas

Si Kuda Binal Dari Jogjakarta
Sehatkah Dirimu ?
Kurindu Ringkikmu
Yang Genit Memaki Onar

Dimana Kini Kau Berada ?
Tetapkah Nyaring Suaramu ?

Si Mata Elang Dari Jogjakarta
Resahkah Kamu ?
Kurindu Sorot Matamu
Yang Tajam Belah Malam

Dimana Runcing Kokoh Paruhmu ?
Tetapkah Angkuhmu Hadang Keruh ?

Masih Sukakah Kau Mendengar ?
Dengus Nafas Saudara Kita Yang Terkapar
Masih Sukakah Kau Melihat ?
Butir Keringat Kaum Orang Kecil Yang Terjerat
Oleh Slogan Slogan Manis Sang Hati Laknat
Oleh Janji Janji Muluk Tanpa Bukti

Dimana Kini Kau Berada ?
Tetapkah Nyaring Suaramu ?
Dimana Runcing Kokoh Paruhmu ?
Tetapkah Angkuhmu Hadang Keruh ?

(Willy-Iwan Fals)

Setahun

Diam-diam, mengendap-endap, lalu mengagetkan!

Tabiat waktu dari dulu emang kayak gitu. Enggak berasa, tau-tau udah setahun aja. Padahal kek-nya belom lama gua nulis postingan ini. Banyak yang gua dapetin dari nge-blog. Berbagai cerita, sebagai bengkel yang memacu gua untuk terus berkreatifitas. Beberapa postingan blog ini juga ada yang akhirnya masuk menjadi bagian buku Pejantan Dodol ataupun buku yang lagi gua kerjain.

Kalo nulis blog, biasanya gua enggak ada persiapan yang matang. Sama kayak gua nulis postingan kali ini. Dateng ke warnet, buka wordpress lalu langsung ngeluarin apa yang ada di kepala di add new post. Enggak ada draft, enggak pake kerangka karangan. Kadang-kadang emang berasa banget enggak terstruktur, tapi biasanya justru gua lebih meledak-ledak. Tulisan gua mengalir begitu aja. Meluap-luap, meletup-letup dan liar. Berbeda misalnya kalo gua lagi serius nulis suatu naskah. Pake buat outlinenya dulu, nyiapin bahan-bahan komedi, dan sederet persiapan lain yang bikin ribet.

Gua suka ngeblog. Gua suka nulis dengan spontan.

Semoga, cerita di blog ini terus berlanjut…..

Older Posts »